Lalu pindah ke pangkal paha. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Bokepindo Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ah apa saja. Agar kejadian kemarin terulang. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Tapi ia dingin sekali. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku masih di atas angkot. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”Aku langsung beres-beres dan pulang. Suara itu lagi. Langkahku semangat lagi. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi.




















