Aku jadi geregetan melihatnya.“A-aku nggak bisa,” dia menggeleng. XXNX Hehe…” godanya. Dan setiap kutanyakan kembali, ia hanya bilang: ‘kapan-kapan aja, tunggu tanggal mainnya. Aku belum apa-apa, dia sudah moncrot duluan. ”Kamu hamil, rumah kita jadi. “ke dukun kek, atau ikutan bayi tabung. ”Emm, gimana ya?”dia tampak berpikir. “Hati-hati, Ma.” kucium pipinya kutunggu sampai mobilnya hilang di ujung gang.Di dalam kamar, aku menangis sesenggukan. Laki-laki itu membaringkan tubuh montokku di ranjang dan kemudian membuka kedua paha mulusku lebar-lebar. Memekku terasa gatal sekali.Bang Irul pun menuruti kata-kata istrinya. “Indri aja deh” Sita menunjuk diriku.Aku sama sekali tidak membantah usulnya, karena saat ini aku memang sangat ingin segera disetubuhi.




















