Kulihat mata yu Darmi membelalak melihat batang kemaluanku yang demikian kerasnya. XXNX Akhirnya acara ritual saling memandikan selesai sudah setelah yu Darmi gantian menyabuni seluruh tubuhku. Pakaian kami sudah agak basah karena kehujanan tadi. ”Yo gak apa-apa mas… mas Ardi mau makan di mana?”
“Ya makan di deket-deket puskesmas saja yu …jadi nanti kalau dokternya datang kita bisa segera kemari lagi”
“Iya ya mas…ayo di depan sana ada warung agak lumayan mas” yu Darmi yang menjadi petunjuk jalanku. ”Ohhh….massshhh…ohhhh…..terrr…usshhhh…ohhhh” mulut yu Darmi tak henti-hentinya mendesis seperti orang kepedasan. Tangannya sangat telaten menggosok seluruh tubuhku terutama pada batang kemaluanku yang sedari tadi sudah tegak berdiri.Hujan di luar semakin deras dan suasana semakin gelap. ”Iya yu terima kasih…Nanti sore kalau enggak hujan tak mampir ke sana…Pokoknya sampeyang yang sabar ya yu… namanya kena musibah..” Aku sedikit menyemangatinya.




















