Stasiun Manggarai, pukul 15.20 siang aku dicekam kebingungan. Bokepindo Matanya sayu menantang mataku, nafasnya memburu, dadanya naik-turun.“Ya, Tante” mendadak suaraku serak. Tubuh indah itu sendirian di kamar.Buah dada putih itu tak ada yang mengelusnya. Aku harus ambil inisiatif.Kucium pipinya mesra, penuh perasaan. Penasaran pada benda lembut yang mendesak lenganku tadi, serta pada kabar gembira apa ?Ketika Ia kembali lagi, aku berdiri untuk memuaskan rasa penasaran tadi.Tante menempelkan telunjuknya ke mulut sambil matanya melirik ke kamar. Saya engga mampu, Tante. Tante masih “terkapar” Aku lunglai di atas tubuhnya.Ini keempat kalinya aku bersetubuh dengan Tante.Yang terakhir inilah kurasakan sangat berbeda dibanding tiga kali yang terdahulu. Setelah aku jelaskan asal-usulku, wajahnya berubah cerah. Waktu Tante sedang duduk membaca di ruang tengah, aku mendekatinya dari belakang dengan kelaminku sudah kukeluarkan, terjulur kutempelkan di pipi Tante.




















