Bahkan Mbak Indri menjanjikan macam-macam agar aku tidak terus menangis. XNXX “Iya.”
“Memangnya ada apa?” tanyaku lagi. “Tidak…, tidak ada apa-apa, sahut Linda sambil merapihkan pakaiannya.Aku bangkit dan duduk di sisi pembaringan. Kalau mengingat kejadian itu memang menggelikan sekali. Sedangkan aku sendiri sama sekali tidak peduli, tetap menganggapnya hanya teman biasa saja. Dan jarak usia antara kami cukup jauh juga. Karena pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herman. Lalu dia menuntun dan membawanya ke pembaringan. Linda kembali mencium dan melumat bibirku. Tapi sama sekali aku tidak merasakan apa-apa. Karena apapun yang aku ingin minta, selalu saja diberikan. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yang kini sudan polos. Aku memang paling suka kalau dipuji.Oh, ya…, Nanti malam kamu datang…”, ujar Tante Maya sebelum pergi. Aku benci dengan suaminya.




















