“Tidak”, Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa. Erik masih menindihku dan mulai menciumi punggungku. XNXX “Emm..” aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit. Hanya saja, aku sudah mempersiapkan hukuman yang tepat untukmu. Dan lagi, sekarang.. Tapi, aku tetap tidak bisa beranjak dari sana. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. “Seperti boneka..”
Aku yakin sekali dia bergumam [“..boneka yang aku idam-idamkan”]
Lalu dia melepaskan wajahku dan langsung meninggalkanku begitu saja.Sehari setelah kunjungan itu, Erik bersama temannya itu kembali mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku. Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Aku memekik dan mulai menangis. Yang paling menyedihkan adalah, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah maupun ibu.




















