Yang jelas setelah itu tiap hari Selasa dan Kamis saya berkantor di kantor Pak Fahri. XXNX Saya jawab iya. Waktu itulah dia menawari pekerjaan untuk saya, kesediaan untuk secara resmi menjadi suami saya dan tentunya melegalisir bayi yang akan saya lahirkan.Saya tidak tahu bagaimana dia mengurus tetek bengeknya di kantor catatan sipil dan bagaimana dia dapat menjinakkan isterinya. Tetapi saya mengatakan agar dari atas dulu. Setelah itu ditarik secara pelan-pelan. Itu rahasia perusahaan.Tetapi yang jelas, sebagai seorang penjaga putri cantik, atau penjaga “kebun wisata”, sekali waktu dia saya beri kesempatan untuk mencicipi atau menikmati keSantian “kebun” itu. Resminya anak itu adalah anak Pak Fahri (nama samaran). Belum sampai dia menjawab pertanyaan saya, saya sudah mengatakan,“Dik Yuda, Mbak Santi dicium dulu yach!”
“Ach enggak Mbak jangan.”
“Lho kenapa?




















