“Soal tua sih gak jadi soal..jujur aja, mbak tetap luar biasa kok..”Lanjutku makin berani. XNXX Bagaimana kalau dikemudian hari kenekatanku bakal berbalik menjadi bencana utk diriku serta karir. Aku terbaring,penat terasa, pinggangku nyeri. Ayo ini saya tadi beli dua bungkus nasi uduknya, satu utk mbak..” ujarku sambil tersenyum ramah. Aku segera berlalu menuju kantor. Aku berdiri, kedua tanganku menggapai tanganya, luar biasanya keatas kemudian membawanya melangkah mengikutiku, ke arah kamar…
Mbak Juminten sama sekali tidak bereaksi, dirinya kikuk mengikuti langkahku. “Iya buk..” Jawab bocah itu. Tidak lama kemudian aku bergerak cepat membuka lepas pakaianya. “Iya mbak, gak usah dipikirin soal kembalianya..dan..maaf soal yg tadi..”Jawabku tanpa menoleh kepadanya.




















