Begitu kami bergantian.Aku dan Bu Miranti mulai tak tahan, kurebahkan dia disofa. XXNX Entah bagaimana rasanya rumah ini kalau tak ada kamu dan Yon. Senyumnya sering kali getir dan terpaksa.Aku beranjak kekamar mandi untuk kencing. Toh selama ini aku menganggap rumah Bu Miranti ini rumah kostku yang kedua, sebelumnya sering juga aku nginap dan nongkrong ham pir setiap hari disini.Ada satu hal sebenarnya yang ikut jg menghalangiku selama ini menolak ta waran Yon atau Bu Miranti untuk tinggal dirumahnya. Sepi.“Ibu bahagia sekali win kamu mau tinggal disini. Kuperhatikan belakangan ini ibu Miranti begitu murung. De ngan selera anak mudanya dia atur in terior ruangan itu seenak perutnya. Bu Miranti mendesah memejamkan mata. Bu Miranti tersenyum bahagia. Kuremas-remas teteknya dengan tangan kananku.Bu Miranti melepaskan ciumannya lalu merintih-rintih dengan kepala terdongak kebelakang seolah memberikan lehernya












