Tanpa ragu-ragu aku mencipratkan air dalam gelas itu ke bibirnya. XXNX Aku mendeham: “belum Nduk” kataku: “Aku bilang semuanya. Baru pintu kubuka sedikit, tiba-tiba.. Dia menggeleng: “a..anu Mbah.. muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. tak jadikan sop! Daripada nanti kalau lepas bisa kalap aku. Malah goyongannya yang semakin lama semakin tidak teratur. Tak cacah dagingmu, tak jadikan rawon! nanti lama-lama sakitnya hilang, berganti rasa enak”.Aku harus mengakui, inilah lobang kemaluan ternikmat yang pernah kurasakan. Meskipun tetap dengan ogah-ogahan dan tidak percaya, aku ikut juga menjadi muridnya. Mbah.. Kini dia terbaring mengangkang, kemaluannya terbuka lebar seakan siap menerima segala kenikmatan duniawi. Naik turun gunung, masuk ke goa dan bertapa (ih, dinginnya minta ampun) dan dipaksa berpuasa mutih (cuman minum air dan nasi putih doang), empat puluh hari penuh.




















