Sampai suatu hari. Willy tertawa kecil mendengar jawabanku. Bokepindo Selama ini kupikir kontolku sudah paling gede. Mama tak sadar dengan kehadiranku, karena saat itu ia sedang memejamkan matanya sambil mendesah-desah. Segera kuambil minuman dingin dari lemari es. Dasar nakal. Dia juga masih kuliah. Belum lagi kontolnya. Mataku langsung menatap ke arah kontolnya. Uang jajan tak pernah kurang. Gila men. Otomotif, sport, musik, dan pasti ngesex. Malu. Bisa dibilang, si Willy ini piaraan Mama. Itupun setelah jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Aku tak tahu apakah mereka masih melanjutkan lagi permainan cabul mereka atau tidak. Masing-masing kami dibelikan Mama mobil sebagai alat transportasi. “Gila lo,” kata Mimi. Sadis. “memang lo enggak bisa liat, gue lagi ngapain,” jawabku cuek.




















