Daguku terangkat dan dadaku membusung ke mulutnya. Kami terhenti dan Pak Rian segera mengangkatnya. Bokepindo Entah mengapa, lambat laun aku menyukainya. Sesaat kemudian kurasakan puncakku. Tapi kami hanya mengobrol dan tidak melakukan apa-apa. Sering ia memperkenalkan aku dengan teman-temannya. Tidak enak bila terlihat karyawan lain. Kecuali satu ini. Sampai kuberikan liangku, tapi aku tetap perawan karena hanya liang belakangku yang kuberikan. Kulihat ia rajin datang. Rasa campur aduk di hatiku. Beberapa lama kemudian aku mempraktekkannya. Setelah itu kubenar-benar tersadar dan rasa bingung, sedih, kecewa dan senang bercampur aduk di hatiku. Buah dada dan bibirku ia gilir. Tak jarang rasa sepi terasa saat jauh dari keluarga. Kurasakan jarinya keluar-masuk di liangku. Sesaat kuterlelap. Akhirnya kami bergegas masuk kemobil.




















