Lidahku semakin liar bermain. Muluntuku pun mulai menghisap gundukan indah Mbak Titis. Bokepindo “Dimas, biarin aja”, kata Bu Titis lagi. Tapi aku suka banget ama yang segitu. Mbak Titis hanya menatapku sayu dengan nafas yang memburu. Pernah suatu ketika, aku sedang santai di kantor karena tidak ada order pembuatan iklan. Siapa tau Mbak Titis minta ditemenin. Pengen rasanya menyentuh, meremas, mengulum putingnya. “Ouhh… Mas…”, tangannya meraih rambuntuku dan menjambak pelan. Kujatuhkan kepalaku ke punggung Mbak Titis. “Iya deh. “Menurut kamu, ibu cantik ga”, tanya ibu Titis dengan menatap mataku. Gara-gara Pak Min nih. Tanpa pikir panjang kuhampiri Mbak Titis dan berlutut di depannya. Lumayanlah, musiknya agak melow-melow gitu jadinya asik di dengerin sambil ngantuk.




















