Dipandanginya aku agak lama. Bokep Montok masih…”“Nah.. Kunyalakan TV channel yang memutar film-film biru. Aku sebenarnya ingin tertawa. Ketika kembali ke kamar, dia membisu dan tak mau menjawab pertanyaanku. Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur.“Ahhh…” aku mengerang merasa nikmat sekali.Kulihat matanya sesekali melirik TV. Darah segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Dia memandangku dengan gundah. Aku merasa kesakitan. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Hitung-hitung balas budi. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. dimasukin…” kali ini pisau kutekan lagi.Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah.Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku.




















