Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Semoga berkah,” ucap anak laki-laki itu sambil menunduk-nundukkan badannya. XXNX Aku yang bisa dikatakan sedikit menggigil memperhatikan mobil, motor, becak, andong, bajaj, hingga truk lalu lalang. “Sudah dapat banyak?”
“Belum. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya.,,,,,,,,,, Aku mematung di tempatku berdiri. Dia menjual, bukan mengemis. Sedikit-sedikit oleng ke kiri, atau oleng ke kanan. Dia punya usaha untuk hidup. Malam semakin larut. Aku yakin sekali, orang tuanya sudah berhasil mendidiknya dengan ajaran agama. “Woi!” teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar. Aku langsung ingin mengutuk diri. Ketika hujan datang, aku membasah. Dia terpelanting. Aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. “Woi!” teriak salah satu anak dari




















