Tech noir Remas Toket Gede Melet Lidah: surveillance, korporasi, dan pilihan. Visual gelap, pace tegang. XXNX Minus: tema berat. Untuk pecinta spekulatif. Mulai.
Entah kenapa tiba-tiba sekujur badanku menggelelar ketika penisku tiba-tiba menyentuh sesuatu yg lembab, hangat, dan agak basah.Namun tiba-tiba saja Lidya memekik, dan menatap bagian penisku. “Mau apa ke kamar?”, tanyaku tak mengerti. Habis lucu sih.., Soalnya waktu Mbak Indira menikah, umurku sudah 21 tahun.Hampir lupa, Saat ini aku masih kuliah. Memang aku seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar perempuan ini. “Aku mencintaimu”, sahut Lidya agak ditekan nada suaranya. Tak ada yg istimewa. “Ada apa, Lin?” tanyaku polos.“Ohh..”, Lidya mengeluhh panjang sembari menggelimpangkan badannya ke samping. Namun memang sudah lama aku ingin dibelikan motor. Dia malah tersenyum. Karena apapun yg aku ingin minta, selalu saja diberikan. Kalo mengingat kejadian itu memang menggelikan sekali. “Bobby”, sahutku tetap dgn nada bangga.Tante Amanda meminjamnya sebentar untuk berjalan-jalan.
















