“Eh mau ke Bojonegoro, mbak mau kemana, “ tanyaku kembali. Gerakan jadi tidak leluasa lagi sehingga aku menyarankan Rianti keluar dari bak mandi dan meneruskan di luar. XXNX “Rumah orang tuanya di Rembang ya,” tanyaku lebih lanjut. Rianti dan Ninik memeng kubekali uang yang lumayan banyak untuk sekedar belanja membeli pakaian dan sepatu di mall di bawah hotel. Aku berhadap-hadapan dengan Ninik. Sambil memelukku dia terus mengggerakkan-gerakan pinggulnya. Kesanku Ninik sudah jebol perawannya. Ninikpun menjerit, rupanya dia juga sampai kepada puncak tertingginya.“Seru banget mainnya, dan berisik,” kata Rianti yang duduk bersila dengan tubuh telanjang menonton pertempuranku. Tidak ada titik terang, sementara bus sudah mulai memasuki Kendal, yang berarti tidak lama lagi akan sampai Semarang. Dia melolosi satu persatu bajunya. Kugenjot dengan gerakan kasar, Rianti merintih-rintih. Bentuk itu tercetak jelas dibalik kaus pink.




















