Senyumnya yg manis membuat hatiku bingung. Puasin Septi.. XXNX terus Ben….aahhh.. Kita kemaren tidur begitu gayanya.”
“Linda mana, Za? Kecil-kecil imut merupakan kesan yg dibeSeptinnya. Celana dalam saya buka perlahan-lahan memperlihatkan titit yg sdh mengeras sejak tadi. Yg sdh lepas, tdk boleh dipakai lagi!”
Beni : “Kalau yg sdh bugil kalah lagi gimana? “Hahahaha” Reza tertawa geli. Perlahan-lahan kubuka mataku berpikir Reza atau Linda sedang mengulum si junior. Paling enak jadi lawan mainnya di lapangan. Tinggal gue sodok masuk”
Entah kenapa sekali lagi aku melirik ke Linda dan Linda pun tersenyum kembali. Pentilnya telah keras menjulang ke atas. Pintu kamar hotel diketuk. Linda keluar dari kamar mandi sambil masih mengeringkan rambutnya. Linda di kananku, Reza di kiriku.Tok tok tok.. Posisi siap menerima bola dan kaos longgarnya sering mengganggu konsentrasiku di lapangan.




















