Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. XXNX Ah apa saja. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Masih ada esok. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Shit! Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Tetapi, aku harus berani. Ciut. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Aku berhasil. Dari perut turun ke paha. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream.




















