Dhea masih menangis dan gemetar. Bokepindo Ini membuat erangan Dhea makin keras sehingga aku harus mengancamnya lagi dengan belatiku. Aku menempatkan tubuhku, aku harus memnyuruhnya beberapa kali untuk membuka kakinya lebih lebar, seperti dokter gigi, “Ayo lebih lebar sayang, lho kok segitu, lebih lebar lagi, bagus anak manis..”, Aku ingin tahu dia masih perawan atau tidak. Di depan Dhea agak rata, buah dadanya hanya sekepal dengan puting susu yang mengeras. Aku berpikir untuk kembali dan menculik Dhea serta mengajak beberapa orang temanku untuk mencicipinya. Tubuh Dhea langsing dan mungil, dan baju tidur yang dipakainya terangkat ke tas membuatku bisa melihat kakinya yang putih dan mulus. Aku buka pintu dan masuk sambil menutupnya kembali. Terasa basah. Aku terus menghentak-hentak di atas tubuh Dhea, dengan kecepatan yang brutal, dan tubuhnya yang mungil terbanting-banting karena gerakanku.




















