Tapi tak simetris, buah kirinya agak turun, tak bulat benar (Mas Wiro, umumnya buah dada memang tak simetris ya, kanan kiri beda. XXNX “Sering-sering ke sini ya,” Lagi-lagi ucapan basa-basi yang standar. Naik lagi menciumi pelirku, bahkan mengemotnya, satu persatu bergiliran bijiku masuk ke mulutnya. Pilih Si “Dada tumpah” pas dengan selera, tapi bentuk pelayanannya belum jelas. Ehem, aku tak salah pilih. “Mas termasuk kuat, lho.”
Ah, ini sih basa-basi standar seorang profesional. “Eh…bentar dong Mas,” elaknya ramah. Kudengar ada sedikit nada kecewanya (Tolong Mas Wiro, pilih yang mana nih?)
“Kok gak ada tamu lain, sih?” tanyaku sekedar menetralkan. Keputusan yang agak spekulatif sebenarnya. Sopan banget. Si gaun hitam ini belahannya tertutup.Yang ketiga, bergaun crem berbunga kecil, agaknya yang paling ideal. Bagiku, indikasi dada montok adalah punya “belahan” atau tidak. Tapi Aku mendapatkan informasi lain.




















