Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Bokepindo Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Napasnya tersengal. Dari atas: Turun. Lalu asyik membuka tabloid. Hap. Aku menggelepar.“Sst..! Ah masa bodo. Sudahlah. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Ah masa bodo. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Haruskah kujawab sapaan itu? Apalagi yang dapat tertinggal? Keberuntungankah? Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama




















