Aku segera menepis pikiran kurang baik itu. Hhhh..telah terjadi, yg kelak urusan nanti. XNXX “Iya den, ngomong aja..”Jawabnya. Aku luar biasa tangan itu supaya tubuhnya mendekat. Peniskupun telah semacam ingin meledak. Dasar perempuan bego ujarku dalam hati. Sekejap saja kami telah berdiri, saling bertatapan dalam kebingungan. Wajahnya pucat pasi..antara kaget serta bimbang dengan apa yg dirinya tengah rasa. Damn it, kenapa faktor ini kembali menggangguku. Mbak Juminten mungkin telah lama pulang. “Mbak ambilin aer putih sebentar..”Serunya sambil segera berlalu ke dapur. Hari ini selain bibir serta kurang lebih wajahnya, ciumanku mendarat di leher serta belakang telinganya. Ayo ini saya tadi beli dua bungkus nasi uduknya, satu utk mbak..” ujarku sambil tersenyum ramah. Usaha katering yg kujanapabilan berjalan sukes, tarah nasib mbak Juminten meningkat lebih baik. Aku tidak menjawab, aku tengah fokus ingin menuntaskan




















