Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Bokepindo Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Benarkan kesempatan itu lewat. Lalu pindah ke pangkal paha. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Ke bawah: Tidak. Satu dua, satu dua. Ke bawah lagi: Turun. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Sial. “Halo..?” katanya sedikit terengah. Mbak Wien sudah turun. Aku hanya main dengan tangan. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat.




















