Jahat, masak cuma dia yang boleh
tahu hal-hal semacam itu. “Berdiri sebentar, Sapto”. XXNX Sejak
malam itu, setiap malam aku melakukan hal itu. Astaga, memang basah! Aku segera menyudahi keasyikanku. “Mimpi basah?”. Seeerrr, darahku semakin berdesir. Dia tidak melarang. Aku memandangnya. Aku mengharapkan segalanya akan terulang kembali. Lama kupandangi selangkangan
Kak Tina sampai dia mengubah posisinya. “Berdiri sebentar, Sapto”. Besok-besoknya aku
tak pernah memiliki kesempatan untuk menggerayangi lemarinya. “Kak, Saya bisa pinjam nggak?”. Otakku terbakar! Tampak raut wajah Kak Tina berubah. Kak Tina nafasnya tak teratur
saat membaca bagian yang menceritakan permainan cinta Marisa dengan
beberapa laki-laki. Kak Tina selalu membangunkan aku setelah dia memasak air. Celana
seragamku aku rendam di kamar mandi. Pak Rochim dan ibu
sangat baik kepadaku. Saat tidur aku
merasa ingin pipis.

















