Damn it..aku menyumpah dalam hati. Aku menatap pemandangan luar dari jendela. XXNX Tanganya lembut memeluk punggungku. “.. Jemariku menyentuh pangkal tangannya, menepuknya pelan kemudian tanpa bicara aku melangkah masuk ke kamar sambil menutup pintu. “Gak papa den..gak papa..”Jawabnya, tangisnya kembali pecah sedetik kemudian, bahunya terguncang-guncang, aku hanya dapat terdiam. Aku membalikan badan, menatapnya dengan tidak jarangai aneh. Jemariku segera beraksi, aku menjamah bongkahan pahanya dibawahku, daster itu telah tersingkap ke atas. Ada rasa amarah tanpa argumen bermain dipikiranku. Makin cepat makin baik, setan itu membisiki bertubi-tubi. Mungkin lebih dari 15 menit berjalan, mbak Juminten mulai kewalahan. Sebagian kemeja serta celanaku telah basah kuyup. “Sebetulnya saya gak tega mbak, tapi entahlah..itu yg ada dalam otak saya sekarang..terserah mbak de..”Jawabku dengan tenang. “Buuk…ibuuuk..”Lanjut bocah itu.




















