Ah, Chie. Bokep indo Dan aku masih sering menghubunginya. “Aku juga, Chie. Terkadang aku menyesal menyerahkan Chie kepadanya. Air mata mulai membasahi dadaku yang terbuka. Matanya menatapku saat aku keluar dari kamar. Di saat aku pun berjuang melawan desisan hawa nafsu yang bergejolak dalam diriku.“Ray…”
“Ada, pasti ada suatu saat nanti,” desahku. Wajahnya melukiskan kebahagiaan dan ketenangan. Ah. “Sebelum aku menjadi milik bule. Kuparkir mobilku di depan pekarangan rumahnya. Karena seperti kata pepatah kuno, hanya setan yang mengerti setan. Aku tahu itu, aku bukan seorang bodoh. Dan kubiarkan Jay larut dalam lamunannya. Aku bukanlah seorang bodoh yang tak bisa membedakan perawan dengan tante-tante. Chie memanfaatkan salah satu prinsipku, yaitu bahwa aku takkan berhubungan seksual terang-terangan dengan gadis yang masih perawan, sehingga ia mencoba membuatku percaya bahwa ia sudah tidak perawan lagi.




















