“Tidak apa-apa. “Hey, jangan kasar-kasar.”
“Maaf..maaf…,” ucapku terbata-bata. XXNX “Mau kau tidur di dadaku?” kudengar ia berbisik padaku. “Tenang,” bisiknya. Mau memaafkanku?” Ia menatap mataku lama. “Aku..,” desahku lagi. Ajak aku ke rumahmu.” Aku terkesiap. Ia memiliki sesuatu yang membuatku tak jenuh kala memandangnya. Akhirnya aku menawarkan untuk mengantarnya pulang. Ia menoleh dan memandangku. Fantasi tentang hari yang begitu luar biasa, saat aku kehilangan keperjakaanku di tangannya. Pandanganku tak beralih sedikitpun dari wajahnya yang tersenyum. Lalu ia tertawa. Dengan wajah memerah, kulepaskan pandanganku dari bibir kemaluannya yang merah dan basah. Canda itu membuat kami serasa sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Jangan dulu…aahhkk…”
“Shiitt !!” erangku memaki, lalu melepaskan tubuhku dari pelukannya.




















