Lho, salon kan tempat umum. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya.Apalagi yang dapat tertinggal? XXNX Kesempatan tidak akan datang dua kali. Dadaku mulai berdegup lagi. Sekarang sudah lebih lancar. Kali ini dengan telapak tangan. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Ke bawah: Tidak. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Ia menyenggol kepala juniorku. Agar kejadian kemarin terulang.Jam berapa aku berangkat. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Nampak ada perubahan besar pada Hawin. Ciut. Dingin. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar.




















