Lalu akupun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka.Mbak Nida kaget, melihatku mengikuti langkahnya,
“Eeeh…kamu kok ikut masuk juga ?!”
Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab,“Alaa….Mbak jangan munafiklah, tokh Mbak juga menyukai Vcd porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala”
“Kurang ajar kamu ! Kata Mbak tidaaak ! XNXX Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya akan terpenuhi.Tak lama, Mas Arif melepas pelukannya dan Mbak Nidapun mulai melepas celananya. Keluar kamu !”“Eeee….tidak segampang itu, ayolah Mbak Nida jangan marah, pi-kirkan dulu, saya satu-satunya ke-sempatan, bila Mbak Nida tidak me-makai saya, seumur-umur Mbak Nida nggak akan pernah mencapai orgasme lagi” aku mulai meng-hasutnya.Mbak Nida terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku, tapi…“Tidak !




















