“Iya, kita cewek juga boleh dong ngeliat, bukan cowok aja dong, kan emansipasi nih”, Susanna menambahkan. Bokepindo Aku pun mempersilakan mereka masuk ke kamarku yang juga ruang kerjaku. Aku merasa ada sedikit hati pada Susanti karena kalau sedang ngobrol lebih klop rasanya. Susanti yang pada saat itu sedang mabuk kepayang oleh nafsunya mendesah sambil berkata, “Uhh, terus Van, terusiin, udah mau keluar nih.., Ahh.!”. “Ini bentar lagi selesai kok tinggal di save aja nih”, jawab Susanti. Sejak saat itu kami pun mulai akrab, aku juga sudah mengenal kembarannya yang bernama Susanna yang lebih tua beberapa menit dari Susanti. Susanna yang melihat kami berdua sedang diam-diam asyik langsung berkata, “Loh, kok mainnya cuma berdua aja sih, nggak ngajak-ngajak nih!”. Aku sebenarnya agak keberatan soalnya Susanti itu kan gadis yang aku sukai, tapi kulihat Susanti




















