Desah dan erangan Ana tiba-tiba berhenti. “Nov…”
Matanya terbuka menantangku melakukan yang lebih. XXNX Kulepas sepatu, kumasukkan seluruh pakaiannku termasuk dalaman dan kaus kaki ke dalam tas plastik tempat cucian, lalu kutaruh di luar pintu kamar agar besok pagi siap untuk another flight. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke pulau Tarakan. Ana bercerita panjang lebar kepadaku di tempat tidur sambil kupeluk.Setelah selesai dan capek bercerita, kucium bibirnya. Maklum Tarakan adalah kampung halaman istrinya. Sementara Captain Frank (instruktur terbangku yang funky dan hobby tidur saat pesawat telah level di puncak ketinggian) masih terdengar dengkurnya yang nyaring. “Iya deh, aku tunggu..”, kataku.Kututup telepon dan buru-buru kupakai kaos dan celana pendekku. Telah beberapa orang sebelum angkatan mereka masuk telah kutelusuri pola kehidupannya.




















