Dalam perjalanan, kami lebih mesrah saling pegangan tangan. “Terima kasih Bu, takut nanti temanku menunggu dan menghawatirkanku. XXNX Selama dalam perjalanan kami tidak terlalu banyak bicara, karena takut dicurigai oleh tukang becak. Bagaimana denganmu?” bisikku merapatkan bibirku ke telinganya agar ucapanku tidak kedengaran orang yang ada di belakangku. Aku membuka sarungnya dengan kakiku, ternyata ia tidak pakai apa-apa lagi kecuali sarung. “Dit, ada sayur dan ikan bakar saya bawa, siapa tahu belum makan, masih panas-panas lagi, makanlah, aku mau pulang dulu” lanjutnya sebelum aku bicara sambil berbaik arah ke pintu mau pulang.“Dar, duduk dulu, kita bincang-bincang sebentar, siapa tahu kami nanti tidak tinggal lagi di sini setelah balik dari lokasi KKN, jadi nggak apalah kita gunakan kesempatan kita ini untuk ngobrol” kataku mencegah untuk pulang cepat.




















