“Ray, aku menyayangimu.”
Ah, Chie. XXNX Karena bagiku Chie tak lebih dari sekedar bunga mawar yang jingga di antara kumpulan bunga-bunga mawar merah di kebunku. Oh God.Jay memang harus diakui memiliki hati dan jiwa yang sungguh luar biasa. Ada apa? Oh dia ada di sini, ke sini saja. Di sebelahku, Jay menikmati kepulan asap rokoknya yang membuyar di balik dedaunan pohon yang mengelilingi kami.Surabaya, pertengahan Mei 1999Kupeluk tubuh itu erat-erat. Kurasakan otot-ototku menegang dalam kenikmatan yang kurasakan. Di saat aku pun berjuang melawan desisan hawa nafsu yang bergejolak dalam diriku.“Ray…”
“Ada, pasti ada suatu saat nanti,” desahku. “Ray…”
Chie mengerang lirih saat batang kemaluanku menusuk liang kemaluannya. Ah, Jay.Dua bulan lamanya Chie berusaha merayuku untuk melakukan hubungan seksual, namun yang didapatinya hanyalah keteguhan hatiku dan penolakanku, aku mengakui, bahwa aku sering tergoda dan nyaris tak berdaya,




















