Alia benar-benar teriak! XXNX Alia memang berbeda. Tak ada penolakan, aman. Inilah tubuh yang beberapa hari terakhir ini terus tertutup walaupun banyak kali aku ‘menyuntik’ maniku. Tak mungkin Aku masukin cewek ke rumah, bisa-bisa terjadi perang rumah tangga. “Ini kan baru pertama gue izin keluar. Kapan? Gimana nanti aja.”
Bukankah ini semacam sinyal setuju?Tibalah saat yang amat kunantikan. Membayangkan itu semua Aku jadi horny lagi.“Yang..” sapaku sambil mencium pipinya. Alia menelepon memintaku menunggu di dekat Mess lalu berdua kami ke hotel. Kami berpelukan erat. Penis dan jariku yang sudah menikmatinya. “Yang, tadi gue keluar di dalam, gue..”
“Engga usah khawatir Mas,” potongnya. Beberapa hari setelah Alia tiba kembali di Makassar, kami memang masih berkiriman mail, tapi Aku bisa merasakan ada perubahan dalam gayanya menulis.




















