Asmirandah sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. XXNX “Sejak saat itulah aku jadi sering malakukan ‘affair’ dengan dia. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Sejenak aku memandang ke arah pesawat telephone di sisi ranjangku. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata, “Terima kasih yaa.. Miranda..”. “ILU Abang.., mimpiin Miranda yaa.., bye”, lalu Miranda menutup telephonenya. “Oocchh..”, Miranda mengerang pelan. Aku tahu, pasti itu adalah telephone dari rumahnya. Asmirandah menggelinjang hebat, tetapi kedua tanganku erat memeluk, sehingga Asmirandah tidak bisa melepaskan diri. “Oh, aku begitu terangsang malam ini”, desah Asmirandah panik di dalam hati. Terasa dinding kewanitaannya memijat-mijat kejantananku dengan lembut. Gagang telephone ia jepit di antara pundak dan kepalanya, dua tangan kini ada di dadanya. “Mmm.. Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar




















